Saturday, October 13, 2007

MANUSKRIP CELESTINE

Baru-baru ini saya terima email dari seorang teman yang tergabung dalam mailing list Neuro Semantics Indonesia. Dalam emailnya dia memberi tahu tentang Manuskrip Celestine…. Nah apa lagi coba?

Sekitar tahun 1996, saya menemukan buku Manuskrip Celestine yang dikarang oleh James Redfield ini di jajaran novel-novel fiksi. Saya kira saat itu sekedar novel biasa. Ternyata setelah saya baca, buku ini menceritakan perjalanan seorang arkeolog yang mencari manuskrip-manuskrip kuno di pedalaman Peru yang berisi wawasan-wawasan rahasia yang dapat menuntun manusia kearah kehidupan spiritual yang lebih tinggi, serta menciptakan transformasi besar saat manusia telah mencapai tingkatan tersebut. Demikian pula wacana mengenai perputaran energi di alam semesta ini ikut mewarnai petualangan pencarian manuskrip ini.

Menurut saya, fase transfomasi bagi manusia ini bisa disebut sebagai ENLIGHTMENT.
Seperti halnya cerita-cerita fiksi, ternyata pemerintah Peru dan gereja saat ini ingin memusnahkan manuskrip tersebut. Alasannya ? Biasalah… kalau umat manusia ini sudah menemukan “jati dirinya”, dia akan bisa membuat pilihan-pilihan yang merdeka, dengan demikian orang lain akan suli “mengatur” kehidupan si manusia itu.

Walaupun dikemas sebagai novel fiksi, menurut saya Celestine benar-benar nyata dan aplikatif dalam kehidupan manusia. Apalagi belakangan ini ketika muncul The Secret dengan Law of Attraction-nya, ditambah lagi berbicara mengenai energi di alam semesta ini, rasanya Celestine menjadi buku wajib yang harus dibaca.
Sebagai kelanjutannya, James menerbitkan buku The Tenth Insight dan The Secret of Shambala.

Tertarik untuk berdiskusi?

Monday, October 1, 2007

Perlindungan Kerja

Sore tadi saya diundang untuk menghadiri Talkshow yang diadakan oleh Trijaya Fm di Hotel Horison Semarang. Awalnya saya ragu karena topiknya saya 'ga mudheng', mengenai Jamsostek untuk Tenaga Kerja di luar hubungan kerja. Namun seru juga setelah diikuti, terlebih ada teman diskusi yang menarik, ada pak Hianoto yang sangat rajin menulis di blog, dan pak Bambang Nugroho.
Hal yang mengejutkan bagi saya, tersebut data bahwa di Pasar Johar Semarang ternyata ada 1800 tenaga bongkar muat.. gileee.... banyak banget. Itu baru di satu pasar lo! Padahal yang namuan 'kuli' bongkar muat ini, bisa kita pastikan penghasilannya kurang dari UMR. Boro-boro mikir soal jaminan kesehatan, untuk makan saja mungkin mereka kesulitan. Belum lagi tingkat pendidikan yang rendah membuat mereka belum punya wacana tentang menabung, asuransi, atau mikir hari tua mau seperti apa. Andai saja mereka menjadi karyawan dengan suatu ikatan kerja yang pasti, ehm rasanya lebih enak, karena perusahaan pastilah akan mengikutkan mereka ke Jamsostek sehingga ada perlindungan. Tapi bagi mreka yang tidak punya hubungan kerja alias kerja sendiri, misalnya saja buruh di pasar, pedagang kaki lima, pengamen, dan sebagainya.
Dan ternyata saat ini Jamsostek mengeluarkan program baru bagi mereka yang tidak bekerja dalam suatu hubungan kerja. Murah banget lo preminya, cuman 7800 rupiah, dengan jaminan setara penghasilan UMR 600.000 rupiah. Memang itu setara dengan sebungkus rokok ya.
Cuman sekarang masalahnya, bagaimana merubah pola pikir rekan-rekan kita ini agar mereka sadar bahwa proteksi adalah hal yang penting. Kuncinya adalah kampanye program ini secara kontinu. Apakah hanya menjadi tugas dari Jamsostek? Pastilah tidak!! Menurut saya, ini menjadi tanggung jawab sosial bersama sebagai satu saudara di negeri tercinta ini.

FIRE WALKING

Mustahil!!
Eh,tapi kan katanya tiada yang mustahil dalam nama Tuhan?
Itulah yang diserukan oleh para seminaris (Calon Pastur dalam agama Katolik) ketika kami memberikan kelas dengan tema Change Your Mind for Success dengan metode fire walking tanggal 29 September 2007 yang lalu di Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang. Saya dan Frans Waruwu (jauh-jauh dari Surabaya nih..) dan Okky Sulistijo disukung oleh semangat Romo Nano (Romo Pamong Seminari) pada dasarnya ingin membuka wacana baru bagi para seminaris.
Pilihan hidup para seminaris (saat ini setara dengan 3 SMU)memang adalah hal yang unik. Bagaimana tidak, mereka meninggalkan kehidupan duniawi demi sebuah prinsip untuk mengabdikan diri sebutuhnya menjadi pelayan Tuhan. Seperti yang kita tahu, di gereja Katolik, seorang pastur harus mengucapkan 3 kaul, yaitu KETAATAN (pada pmpinan dan hukum gereja), KESUCIAN (tidak boleh menikah), dan KEMISKINAN (meninggalkan semua materi). Nah, bukan hal yang mudah kan....
Terus apa hubungannya?
Sebagai pengemban misi yang besar, tentu saja para seminaris ini perlu dibekali berbagai macam hal agar dapat bertahan dalam morat-maritnya dunia ini kan. Seperti biasa, ujung-ujungnya semua berawal dari pikiran. Oleh sebab itukah kami memberikan pelatihan yang berbasis mindset pada mereka.
Satu ulasan yang paling jelas, para seminaris mesti paham benar bahwa potensi diri yang dimilikinya sangat besar, kerennya "Anything is Possible". Memang, dengan berjalan di atas bara api bukannya mau membuat diri kita menjadi jagoan atau hidup berubah dengan sangat mudah, namun membuat kita makin menyadari bahwa manusia itu hebat dan Tuahn itu luar biasa. Dan alhasil, sebaian besar peserta semakin menyadari potensinya yang luar biasa namun belum dilatih secara optimal.
Selanjutnya, pelatihan kemarin ditutup dengan proses reflektif bahwa dalam hidup ini manusia perlu berusaha dengan giat, berdoa lebih tekun, dan berserah, karena Tuhan yang menentukan.
So, Ad Maiorem Dei Gloriam!!

Monday, August 20, 2007

Raise Your Spirit with Us

Pertengahan Juli yang lalu, saya dengan beberapa teman trainer melanglang ke Medan, awalnya kami diundang oleh seoraang rekan trainer, Martin (pernah memberikan seminar Basic NLP for Human Resources di Unika Soegijapranata, Semarang, tahun 2005), untuk menjadi tim dalam pelatihan untuk PT. Alfa Scorpii Medan. Ternyata setiba disana, banyak hidden agenda yang harus kami lakukan, pastilah untuk memberikan kelas-kelas mindset motivation pada beberapa institusi.
Bagi beberapa orang, mungkin istilah mindset masih terasa asing. Saya sendiri terus terang juga agak sulit mendefinisikan istilah tersebut, namun dengan contoh dibawah ini, semoga anda mendapat gambaran tentang apa itu mindset.
Ada dua anak, yang satu berasal dari keluarga kaya dan yang satu berasal dari keluarga miskin. Yang namanya anak-anak, mereka akan selalu tertarik dengan bermain hujan, demikian pula dengan kedua anak ini. Anak orang kaya ketika bermain hujan, orangtuanya segera berteriak : ”Hei!!! Jangan bermain hujan, malu-maluin Ayah, kalau mau main air di dalam saja, pakai shower di kamar mandi, disitu malah bisa kamu set mau panas atau dingin. Kalau hujan –hujanan nanti kamu sakit!!” Sehingga anak ini belajar bahwa hujan – sakit, hujan – sakit, hujan – sakit..... Kini kita lihat apa yang dialami oleh anak kedua, ketika hujan mulai turun, justru Ayah anak itu berkata : ”Nak, kenapa kamu masih diam dirumah? Nih, ambil payung, mumpung masih hujan pergilah untuk ojek payung, HUJAN ITU REJEKI !!” Maka anak ini belajar bahwa hujan - rejeki, hujan – rejeki, hujan – rejeki.... Nah ketika hari-hariberikutnya kedua anak ini terkena air hujan, mana yang Anda perkirakan akan sakit ?
Benar sekali pendapat Anda, anak pertamalah yang akan sakit, karena ia belajar bahwa hujan itu sakit, sedangkan anak ke dua belajar bahwa hujan itu rejeki. Inilah kira-kira yang dimaksud dengan mindset.
Pikiran manusia ibaratnya sebuah harddisk komputer yang ketika lahir belum diinstal informasi apapun. Ini mengingatkan kita pada Teori Tabula Rasa yang di ungkapkan oleh John Locke, bahwa manusia ketika lahir ibarat kertas putih yang kosong. Ketika anak mulai menjalani proses perkembangan dan kehidupannya, ia mulai menerima banyak informasi yang mulai masuk ke dalam pikirannya secara berulang-ulang, yang sampai akhirnya diyakinilah informasi itu sebagai sebuah sistem atau nilai keyakinan. Inilah yang disebut sebagai mindset. Nah, makin dewasa seseorang, sudah pasti informasi yang diterimanya semakin banyak dan semakin terpola sebagai mindset. Mindset yang ini ternyata tidak mudah diubah atau ditimpa dengan pola baru.
Perbandingan otak manusia dengan komputer juga menjelaskan mengapa kadang-kadang perubahan menjadi suatu hal yang sangat sulit. Terlepas dari seberapa keinginan, harapan atau angan-angan kita, kita sulit menerima perubahan dalam hidup ini. Pada komputer, secara sederhana dengan mencocokkan antara program baru dengan petunjuk yang tersedia, selesai sudah installing program baru dan program lama sudah berubah. Pada manusia, hal ini tidak sedemikian mudah. Seperti yang dijelaskan oleh ahli-ahli mindset, manusia sangat ahli dalam mengembangkan satu aspek atau konsep secara mahir, dan kemudian mereka sama sekali tidak tahu bagaimana mereka dapat mengubah program berpikir mereka untuk mengembangkan aspek lain. Ketika manusia tidak dapat mengubah cara pikirnya, mereka cenderung mencari-cari alasan.
Inilah yang kami lakukan selamia berkunjung di Medan, kami berbagi dengan memberikan pelatihan-pelatihan mindset pada para karyawan yang rata-rata menunjukkan wajah yang tidak rileks dan lelah karena beban pekerjaan sehari-hari. Kami memberikan pelatihan ini dengan metode games therapy, yaitu dengan berbagai permainan, musik, dan film-film singkat. Beberapa simulasi kami lakukan, misalnya yang dialami oleh Nana, Asisten Sekretaris Harian Medan Bisnis, ia sangat kaget ketika mendengan suara ”KRAK” – sebuah pensil terbelah menjadi dua. Bagaimana tidak kaget, ia tidak menduga sebelumnya akan mampu mematahkan pensil itu dengan hanya menggunakan jari telunjuknya. Contoh lain, ketika kami melakukan simulasi untuk memecahkan keramik dengan menggunakan lampu pijar, banyak peserta awalnya mengatakan ”tidak mungkin, mustahil, mana bisa...” namun kami memberikan konsep-konsep mindset bahwa dengan modal keyakinan pada diri sendiri dan konsentrasi, keramik yang tebal itu dapat pecah ketika dijatuhi dengan lamu pijar.
Memang, permainan tersebut hanya simulasi, namun dari permainan yang sederhana, mampu memberikan wawasan bagi pada peserta training tentang mindset bahwa sesuatu yang tidak mungkin akan menjadi MUNGKIN jika kita percaya. Masih penasaran? Banyak kelas-kelas mindset yang diadakan di Semarang, anda tidak perlu jauh-jauh pergi ke Medan untuk bertemu dengan para trainer ini. Salah satunya, anda bisa hubungi Sinergia di 8417969 / 70120185, kebetulan kami akan mengadakan kelas mindset setiap bulannya. Sukses untuk anda !!

Sukses = Tidur Nyenyak

Mungkin beberapa diantara Anda sudah pernah mendengar kalimat ini “ Sukses adalah Tidur Nyenyak di malam hari”. Betul sekali, ini adalah salah satu dari puluhan koleksi kata-kata motivasi dari Krishnamurti, pendiri Pabrik Semangat Bidadari Words. Apakah Anda termasuk salah satu diantara yang bisa tidur nyenyak di malam hari? Jika belum, tidak perlu kuatir karena ini hanya masalah pola pikir saja.
Sebulan belakangan ini saya terheran-heran karena mendapati beberapa orang yang datang pada saya dengan problem yang sama, tidak bisa tidur!! Beberapa diantaranya justru sudah mulai tergantung dengan obat tidur. Hal inilah yang mendorong saya untuk membuat tulisan ini.
Tidur adalah proses alami metabolisme alami tubuh kita yang sama pentingnya dengan kebutuhan kita untuk makan. Memang, para ahli belum menemukan akibat yang fatal bila manusia menderita insomnia alias ketidakmampuan untuk tidur. Sejauh ini, yang kita tahu jika kita tidak memiliki kualitas dan kuantitas tidur, tingkat kekebalan tubuh akan menurun dan sulit berkonsentrasi, sehingga kondisi ini dapat mempengaruhi banyak hal. Namun ternyata bagi Anda yang terlalu lama tidur (lebih dari 15 jam per hari), akan berakibat kurang baik juga karena akan mempengaruhi keseimbangan tubuh.
Ketika seseorang terjaga, tubuh ini membakar oksigen dan makanan untuk menjadi energi yang digunakan untuk aktivitas fisik maupun mental. Sedangkan ketika tidur, tubuh bekerja untuk membenahi metabolisme energi. Selain itu ternyata ketika tidur di malam hari, produksi hormon. Semakin anak tidur dalam lingkungan yang nyaman dan aman, proses pertumbuhan dan perkembangan mereka berjalan dengan optimal. Hormon pertumbuhan ini juga penting bagi orang dewasa, untuk peremajaan dan perbaikan sel-sel kulit, darah dan otak. Tidur juga membantu orang untuk mengatasi emosi negatif seperti marah dan frustrasi sehingga emosi ini tidak ditekan ke pikiran bawah sadarnya.

TIDUR DAN KARAKTER KEPRIBADIAN
Pujangga Perancis, Voltaire ternyata hanya membutuhkan 3 jam untuk waktu tidur malam, demikian juga Margaret Teacher membutuhkan jam tidur yang sama. Namun ilmuwan genius Albert Einstein, ternyata tidur malam sepanjang 12 jam!! Nah, melihat “orang-orang besar” ini, mana yang sebenarnya lebih baik, jam tidur yang pendek atau panjang? Penelitian menunjukkan, bahwa short sleepers (orang dengan jam tidur pendek) memiliki karakter sebagai pekerja keras, ekstrovert, energik, ambisius, dan percaya diri. Sedangkan long sleepers (orang dengan jam tidur panjang) biasanya mudah cemas akan hal-hal yang belum terjadi, namun dapat menjadi lebih kreatif dan artistic.
Sheila Lavery dalam bukunya,m The Healing Power of sleep mengatakan bahwa masing-masing pribadi memiliki pola tidur yang berbeda, tergantung pada rutinitas harian dan banyak aspek dari gaya hidup. Itulah sebabnya kita perlu menyadari pola tidur kita masing-masing.

TIDUR DAN GAYA HIDUP
Jika Anda ingin memiliki kualitas tidur yang baik di malam hari, Anda harus benar-benar memperhatikan pola hidup anda sepanjang hari. Banyak hal yang mempengaruhi terbentuknya pola tidur, seperti kebiasaan makan, program diet, kebiasaan sehari-hari, juga cara tidur itu sendiri.
Kebiasaan Tidur
Jika Anda ingin tidur di malam hari dan bangun awal dipagi hari, bukan saat-saat khusus, namun setiap pagi, sangatlah penting untuk membentuk kebiasaan untuk pergi ke kamar tidur anda lebih awal, mungkin Anda bisa mulai satu jam lebih awal selama satu minggu, dan lihat hasilnya. Selain itu lebih baik Anda tidak membiasakan diri untuk menonton televisi di kamar, karena hal-hal semacam ini akan membuat Anda tidur lebih larut juga.
Kebiasaan Makan
Diet yang tepat merupakan factor penting dalam memelihara kesehatan dan kualitas tidur. Biasakan memulai hari anda dengan sarapan, kebiasaan makan pagi ini merupakan hal yang paling penting dari semua makanan yang kita makan sepanjang hari. Sereal, roti, yoghurt, ataupun buah adalah pilihan yang baik untuk sarapan. Perhatikan juga makan siang anda, apakah komposisinya sudah lengkap, terdiri dari karbohidrat, protein, sayuran, dan buah. Sedangkan untuk makan malam, anda perlu perhatikan porsi makan Anda, terlalu banyak porsi makan malam tidaklah kondusif untuk kualitas tidur. Banyak sayuran sangat disarankan untuk makan malam Anda.
Selain itu, alcohol juga tidak disarankan untuk dikonsumsi sehari-hari. Demikian juga dengan garam dan gula, lebih baik dibatasi.
Aktivitas olah raga
Bagi Anda yang nbanyak melakukan kegiatan luar ruangan, bersyukurkan karena anda dapat menghirup udara segar lebih banyak dan tubuh Anda bergerak lebih banyak. Jika memang pekerjaan Anda lebih banyak duduk di belakang meja, lebih baik Anda menambah waktu untuk berolah raga. Olah raga yang rutin membantu meningkatkan kekebalan tubuh dan meringankan depresi.

Nah, bagaimana dengan kebiasaan-kebiasaan Anda, apakah sudah mendukung untuk Anda dapat meningkatkan kualitas tidur Anda? Masih banyak hal memang, yang mempengaruhi kualitas tidur Anda, seperti lingkungan fisik, misalnya tempat tidur, ventilasi ruangan, warna cat kamar tidur Anda, juga bagi Anda yang sudah terbiasa minum pil tidur. Namun yang paling penting adalah benahi dulu pola hidup dan pola makan Anda, lihat hasilnya terlebih dulu!

Terapi Tawa

Masih ingat ? Suatu sore Sherlock Holmes dan asisten setianya, Watson, sedang berkemah di tengah ekspedisinya. Setelah menyelesaikan makan malamnya, kedua orang ini lantas tidur nyenyak di dalam tendanya. Tengah malam tiba – tiba Holmes membangunkan sang asisten. “Watson, bangun! Coba katakan apa yang kau lihat?”.
Sambil mengucek – ucek matanya, Watson lantas melihat ke atas langit malam, “Aku melihat bermilyar – milyar bintang”. Lantas apa arti semuanya itu?, sergah Holmes. “Miliaran bintang itu pertanda adanya potensi terbentuknya jutaan planet lainnya”, jawab Watson. “Namun waktu kalau berdasarkan posisi bulan, saat ini mendekati pukul 5 subuh”.
“Apalagi ?”, desak sang boss. “Ah, aku masih ngantuk dan capek. Kalau menurut kamu sendiri, apa arti semuanya itu?”. Yang ditanya terdiam sejenak. Lalu menjawab, “Watson, sayang! Artinya ada maling yang mencuri tenda kita!”.

Saya yakin, ada beberapa diantara Anda yang tertawa membaca cerita diatas, ada pula yang tidak. Lantas apa bedanya dan apa maksudnya?
Seandainya tertawa itu dilarang atau dikenakan biaya, apa yang akan terjadi pada orang-orang di muka bumi ini? Sungguh tidak terbayangkan, namun yang jelas, orang akan makin mudah mati lantaran semakin gampang terkena serangan jantung dan stress. Mengapa?
Tertawa, juga menangis, menurut dr. W.M. Roan, seorang psikiater, merupakan cerminan emosi manusia yang menjadi bagian dari spectrum emosi yang meliputi kesedihan, kegembiraan, kekagetan, ketakutan, cinta kasih, kebencian, dan kemarahan. Ekspresi emosi itu tidak hanya berwujud gerakan, tetapi juga berbagai reaksi emosional yang bermacam-macam. Tidak hanya manusia, hewanpun juga bias menunjukkan perasaan gembira dan sedih dengan berbagai kegiatan dan gerakan. Anjing, misalnya ketika gembira, ekornya ke atas dan bergoyang-goyang. Karena itu, banyak ahli tertarik untuk membahas tertawa dan menangis, termasuk dampaknya bagi kesehatan fisik maupun mental.

Tinjauan medis
Pada saat tertawa, sel-sel saraf manusia akan mengeluarkan peptide opiate, yang merangsang produksi sel-sel limfosit. Sel ini berperan membentengi ketahanan tubuh. Selain itu, dengan tertawa, kadar endorphin dalam tubuh meningkat. Endorfin adalah asam amino dalam tubuh yang bekerja untuk mengurangi rasa sakit alami.
Bila kita memperhatikan, pada saat orang tertawa, ia akan menghirup oksigen lebih banyak, sehingga dapat memperlancar aliran darah di dalam jantung. Oksigen yang banyak juga dapat mengeluarkan udara di paru-paru yang sudah penuh. Ibaratnya berolahraga, satu menit tertawa sama dengan 10 menit mengayuh sepeda. Nah, dengan tawa, jantung jadi tidak berdebar terlalu kencang. Tertawa bisa membuat saraf simpatis, saraf yang membuat jantung berdenyut, akan bekerja. Pada awalnya, kerja jantung bertambah keras. Namun ketika tawa terus berlanjut, pikiran orang menjadi rileks. Saraf parasimpatis ikut bekerja, kerja jantungpun kembali normal. Sedangkan kita perlu ketahui, bahwa saraf parasimpatis berfungsi untuk memperlambat denyut jantung.

Tawa VS Stres
Saat stress, hormone adrenalin yang diproduksi oleh tubuh akan keluar secara berlebih dan menyebabkan jantung berdebar keras. Saat tertawa, tubuh secara otomatis menciptakan efek antiadrenalin, sehingga ketegangan mereda dan tekanan darah menurun. Sebenarnya, saat seseorang tertawa lepas telah terjadi hembusan nafas dan dorongan kuat yang menyebabkan tubuh bergoyang di luar kendali. Hal ini terjadi karena adanya tekanan dari otak. Saat tertawa, lima belas otot wajah berkontraksi, sehingga tertawa sebenarnya dapat juga digunakan sebagai senam muka bagi yang ingin nampak selalu awet muda. Percaya saja, karena kesimpulan ini berasal dari penelitian empiris yang dapat dipertanggung jawabkan. Sehingga kini tergantung anda apakah mau tertawa atau tidak…

Terapi tawa vs trauma gempa di Yogya
Siapa yang tidak ikut miris ketika melihat banyak bangunan retak bahkan roboh, serta melihat kebingungan warga yang kehilangan rumah. Belum lagi pemandangan para warga yang patah tulang, serta isak tangis anak-anak kecil. Itulah yang saya lihat ketika menjadi relawan di Yogya setelah gempa berkekuatan 5,9 skala Richter mengguncang sehingga tidak saja mengakibatkan luka secara fisik tapi juga luka secara mental yang justru lebih mendalam.
Kebetulan saya lebih banyak berkunjung kerumah sakit untuk melakukan proses terapi secar psikis, antara lain Rumah Sakit Bethesda dan Rumah Sakit Panembahan Senopati Bantul. Sepanjang lorong rumah sakit, berjajar puluhan pasien yang tidak mendapat jatah kamar lagi, bahkan ada yang terpaksa tidur di lantai beralaskan tikar. Wajah murung dan sorot mata tanpa harapan terlihat dari para pasien maupun penunggunya. Sementara itu pancaran murung dan keletihan juga nampak diantara tim medis ynag sudah berhari-hari melayani tanpa henti.
Kami mulai mendekati para pasien dengan tenang dan tersenyum pada mereka. Kami meyakini, dengan membuat pasien dapat tersenyum, mereka akan lebih tenang secara psikis sehingga proses penyembuhan pun lebih efektif. Kami membuat mereka tertawa dengan gurauan-gurauan kecil, misalnya pada seorang ibu yang sedang menunggu suaminya yang patah tulang, saya menempelkan salon pas dipundahnya yang katanya sakit sambil berkata “o alah Bu, la wong awak balungan kabeh ketiban tembok ya mesti sakit” mendengar kata-kata tersebut si ibu mulai tersenyum dan minta dipijit. Senyuman tersebut nampaknya sederhana, namun secara mental, efeknya sangat besar.
Pengalaman lain saya dapatkan di Rumah Sakit Elizabeth Ganjuran, ternyata dirumah sakit ini banyak sekali dilakukan terapi saperti yang kami lakukan, intinya adalah membuat pasien terhibur, dapat tersenyum, dan menjadi lebih tenang. Direktur rumah sakit tersebut menggabungkan terapi medis dan psikis. Salah satu cara yang dilakukannya untuk menterapi pasien adalah mengundang peragawati-peragawati dari Yogya dan sekitarnya untuk memandikan para pasien. Nah, siapa yang tidak tersenyum jika dimandikan oleh cewek-cewek cantik seperti itu? Hasilnya? Luar biasa sekali, ketika hari pertama gempa terjadi, mereka menampung lebih dari 1000 pasien, dan 2 minggu pasca gempa, hanya tinggal 5 pasien yang rawat inap.
Nah, semoga pengalaman itu dapat menjadi wacana bagi kita semua. Dalam pengalaman berkunjung ke rumah sakit tersebut terasa sekali kebenaran sebuah artikel di Kompas (12/6/06) : “Ceria dating, Trauma hilang!”
Buat anda yang masih penasaran untuk tertawa, Anda dapat hubungi saya lewat email ameliahirawan@yahoo.co.id atau di Sinergia Life Consultant (024) 8417969 / 70333135/ 08122923135

Memahami “Bahasa Otak” Anak

Diawali dengan ada 5 Rudi di Indonesia (seperti R. Habibie, R. Hartono, R. Hadisuwarno, dan Rudi lainnya). Dari kesemua Rudi itu, pandangan masyarakat pada umumnya menunjukkan bahwa R. Habibie adalah orang yang paling cerdas. Namun, menurut Howard Gardner, menyebutkan bahwa mereka semua memiliki kecerdasan yang berbeda (Multiple Intelligence). Bagaimana penilaian kita sebagai orang tua?
Di zaman globalisasi ini, membuat anak menjadi stress, karena anak-anak merasa muak dengan yang namanya belajar. Baik itu belajar di sekolah, di tempat les, maupun belajar di rumah. Semuanya menuntut anak dengan beban yang sangat berat. Padahal kata “pendidikan” berasal dari kata educare yang berarti mengeluarkan potensi yang dimiliki. Hal ini membuat anak menjadi 10 fobia, yang paling parah adalah fobia sekolah.
Di Jakarta, untuk mengantisipasi hal itu maka diadakan sistem pendidikan yang diselenggarakan di rumah atau Home Schooling. Banyak artikel yang memuat mengenai pendidikan di Indonesia, “What’s wrong with Asia’s school?” kurikulum pendidikan di Indonesia terlalu padat ditambah lagi beban dari orangtua dan tempat les.
Bagi orangtua, sejak mengandung anak merupakan masa pendidikan dini. Hal inii dapat dilakukan dengan mengajak bicara anak yang masih berada dalam kandungan. Karena anak membutuhkan stimulasi yang akan melahirkan Sense of basic trust. Sehingga selanjutnya dibutuhkan kemampuan mendongeng pada orangtua.
Usia Balita, memiliki kadar rasa ingin tahu yang sangat besar:
• 50% terdapat pada anak usia 0 – 4 tahun
• 30% terdapat pada anak usia 5 – 10 tahun
• 20% terdapat pada anak di atas usia 11 tahun.
Namun seringkali rasa keingin tahuan anak ini sering diartikan dan dilabel “nakal” oleh orang tua karena keaktifannya. Memang, idealnya anak diajak untuk belajar dengan berkenalan yang menggunakan metode kasih sayang. Proses merupakan suatu hal yang penting, caranya dengan menggunakan lagu sambil bermain, sehingga akan melibatkan unsur kognitif, afektif, dan psikomotorik. Karena setiap anak adalah UNIK dan bersifat OTENTIK. Sehingga membuat orangtua bangga, yang pada akhirnya akan tertanamkan konsep diri yang positif. Untuk itu orangtua perlu terus belajar, dengan mengikuti talkshow maupun seminar.
Menjadi orangtua harus profesional dan pintar menjadi:
• Penyanyi (mengajari anak dengan bernyanyi)
• Penari (menari-nari sambil mengajak anak agar mau makan)
• Pelukis (bukan mengajari anak melukis)
• Pelawak (memberikan joke-joke kecil)
• Pesulap (dengan menggunakan alat-alat lucu)
• Olahragawan
• Manager (mampu mengelola suasana keluarga)
Dalam suatu Learning Forum, untuk mengoptimalkan proses pembelajaran dari orang tua tersebut, digunakan pendekatan seperti Quantum Learning – seperangkat metode dan falsafah belajar yang telah terbukti efektif dengan menggunakan aspek-aspek penting dalam program neurolinguistik (NLP). NLP juga mencakup hubungan antara bahasa dan perilaku yang dapat digunakan untuk menciptakan jalinan pengertian antara anak dan orangtua. Para orang tua dengan pengetahuan NLP mengetahui bagaimana menggunakan bahasa yang positif untuk meningkatkan tindakan positif – faktor penting untuk merangsang fungsi otak yang paling efektif. Semua ini dapat pula menunjukkan dan menciptakan gaya belajar terbaik dari setiap orang, untuk mencapai keberhasilan yang meyakinkan.

Cinta ibarat KUPU-KUPU

Cinta ibarat KUPU-KUPU

Makin kau kejar, makin ia menghindar
tapi bila kau biarkan ia terbang.
ia akan menghampirimu disaat kau tak menduganya.
cinta bisa membahagiakanmu tapi sering pula ia menyakiti.
tapi cinta itu hanya istimewa, apabila kau berikan pada seseorang yang
layak menerimanya.......
jadi....tenang tenang saja jangan terburu-buru
hingga kau bisa memilih yang terbaik .
untuk kalian yang ......RAGU - RAGU DENGAN PERNIKAHAN
Cinta bukanlah perkara menjadi "ORANG SEMPURNA"nya seseorang.
justru perkara menemukan seseorang yang bisa membantumu menjadikan dirimu sempurna.

untuk kalian yang.......TIPE PLAYBOY / PLAYGIRL
Jangan katakan "AKU CINTA PADAMU" bila kau tidak benar-benar peduli padanya.
Jangan bicarakan soal perasaan -perasaan itu bila tidak benar - benar adanya.
Jangan kau Sentuh hidup seseorang bila kau berniat mematahkan hatinya.
Jangan menatap kedalam matanya bila kau apa yang kau katakan cuma DUSTA.
Hal terkejam yang bisa dilakukan ialah membuat seseorang jatuh cinta,padahal kau tidak berniat sama sekali untuk menerimannya saat ia terjatuh......

Untuk kalian yang .........SUDAH MENIKAH
Kalau Cinta jangan katakan "INI SALAHMU !" tapi maafkan aku ya?
Bukan "KAU DIMANA?! " melainkan "AKU DISINI,KENAPA?"
Bukan "KOK BISA SIH KAU BEGITU ?" tapi "AKU MENGERTI "
Dan bukan "COBA, SEANDAINYA KAU.... " akan tetapi "TERIMA KASIH YA, KAMU BEGITU...."

Untuk kalian yang......PATAH HATI
Sakit patah hati bertahan selama kau menginginkannya
dan akan mengiris luka sedalam kau membiarkannya.
Tantangannya bukanlah bagaimana bisa mengatasi melainkan apa yang bisa diambil sebagai pelajaran dan Hikmahnya

Untuk kalian yang.............BELUM PERNAH JATUH CINTA
Bagaimana kalau jatuh cinta : Mau jatuh,jatuhlah tapi jangan sampai terjerumus, tetaplah konsisten tapi jangan terlalu "NGOTOT"
Berbagilah dan jangan sekali - kali tidak Fair.
Berpengertianlah dan cobalah untuk tidak menuntut,
siap - siaplah untuk terluka dan menderita,tapi jangan kau simpan semua rasa sakitmu itu.

Untuk kalian yang .........INGIN MENGUASAI
Hatimu patah melihat yang kau cintai berbahagia dengan oranglain, tapi seharusnya akan lebih sakit mengetahui bahwa yang kau cintai ternyata tidak bahagia bersamamu.

Untuk kalian yang...........TAKUT MENGAKUI
Cinta menyakitkan bila anda putuskan hubungan dengan seseorang. malah lebih sakit lagi bila seseorang memutuskan hubungan denganmu.
Tapi cinta paling menyakitkan bila orang yang kau cintai sama sekali tidak mengetahui perasaanmu terhadapnya.



Untuk kalian yang.......... MASIH BERTAHAN MENCINTAI SESEORANG YANG SUDAH PERGI
Hal menyedihkan dalam hidup ialah bila kau bertemu seseorang lalu jatuh cinta,hanya kemudian pada akirnya kau menyadari bahwa dia bukanlah jodohmu.
Dan kau telah menyia2 kan bertahun-tahun untuk seseorang yang tidak layak. kalau sekarangpun ia sudah tak layak, 10 tahun dari sekarangpun ia juga tak akan layak.
maka biarkan ia pergi dan lupakan.........


quoted frm our neighbour (20/08/07)

Monday, July 30, 2007

HAVING AND BEING


HAVING AND BEING "THE ART OF LOVING"
While the having persons rely on what they have, the being persons rely on the fact that they are, that they are alive and that something new will be born if only they have the courage to let go and respond. They become fully alive in the conversation because they do not stifle themselves by anxious concern with what they have. Their own aliveness is infectious and often helps the other person to transcend his or her egocentricity. Thus the conversation ceases to be an exchange of commodities (information, knowledge, status) and becomes a dialogue in which it does not matter any more who is right. (Fromm 1979)

Hhmmmmm
Memang "happy" ya rasanya kalau jatuh cinta, apalagi kalo orang yang kita cintai itu juga... Tapi memang, bagi pikiran yang waras, sulit mengakui sama sekali kekuatan cinta. Cinta nampak sebagai candu yang meracuni pikiran, omong kosong dan khayalan yang tidak ilmiah. Apapun pendapat orang mengenai cinta, kalo saya ditanya "Apa yang membuat Amelia sukses?" maka jawaban saya adalah karena CINTA.....
Cinta Tuhan, cinta orang tua saya, cinta adik saya, cinta kekasih saya, cinta orang-orang di sekitar saya, dan yang terlebih lagi, cinta saya untuk Tuhan, untuk keluarga, untuk kekasih, dan untuk orang-orang di sekitar saya dan untuk alam tempat saya tinggal ini.
By the way, anyway, busway, LOVE YOUR SELF !!!

Yuk, pecahin keramik hanya dengan pakai bolam lampu!!


BAGAIMANA MUNGKIN BOLA LAMPU LEBIH KUAT DARI KERAMIK ???
Braaak!!! Tiba-tiba pada peserta pelatihan tercengang karena mendengar dan melihat sebuah keramik pecah karena dijatuhi oleh sebuah bola lampu pijar. Secara logika bila bola lampu dijatuhkan pada keramik di ketinggian kira-kira 1,5 meter maka bola lampunya yang akan pecah. Demikianlah para peserta pelatihan baik dari Suara Merdeka maupun Hotel Ciputra langsung penasaran dan bertanya-tanya bagaimana kejadian tersebut mungkin terjadi. Hanya dengan memprogram pikiran untuk membayangkan bahwa bola lampu itu dianggap sebagai sebuah batu, maka ketika bola lampu tersebut dijatuhkan, keramiknyalah yang pecah. Ajaib? Mistik? Tidak, karena itulah memang kinerja pikiran.
Selanjutnya terbahas, bahwa ada beberapa karakter pikiran sehingga kejadian diatas dapat dijelaskan secara logis. Penjelasannya adalah sebagai berikut :
1. Pikiran tidak bisa membedakan antara kenyataan dan khayalan
Coba saja amati, beberapa waktu yang lalu, ketika masih ada tontongan-tontonan di televisi seperti Dunia Lain, Percaya Nggak Percaya, dan sebagainya, beberapa diantara kita mulai mempunyai rasa takut ketika akan ke toilet di malam hari. Padahal toilet di rumah yang kita tinggali bertahun-tahun sebelumnya biasanya juga tidak menakutkan, namun entah mengapa malam itu setelah kita menonton tayangan seperti itu, kita jadi takut. Padahal hantunya juga tidak ada, namun rasa takut ini memproses kerja otak sehingga otak didominasi oleh “rasa” yang tidak melihat lagi kenyataaan seperti apa dan muncullah rasa takut yang sebenarnya tidak beralasan. Demikianlah kerja pikiran kita, informasi apapun yang kita kirim ke otak, dia tidak akan membedakan antara nyata dan tidak nyata.
2. Cara kerja pikiran adalah bahasa visual
Pembaca, misalnya saya minta anda membayangkan sebuah buah jeruk,saya yakin yang terlintas dalam benak anda pastilah sebuah “buah jeruk”, bukan tulisan “j - e - r - u - k”, demikian kinerja pikiran kita dapat dijelaskan secara sederhana, ia bekerja secara visual. Artinya, ketika kita membayangkan sesuatu, maka gambaran-gambaran benda yang kita ciptakan akan langsung melekat dengan kuat. Cara inilah yang seringkali digunakan untuk melatih atlit-atlit, mereka diminta untuk memvisalisasikan atau membayangkan bagaimana mereka mampu mencapai kemenangan dan membayangkan ketika mereka naik ke podium untuk menerima medali. Hal ini digunakan untuk menciptakan keyakinan bahwa hal kemenangan sudah di depan mata sehingga mereka merasa sanagt yakin.
3. Tubuh bekerja mengikuti pikiran
Pernah kita berkata “Aduh badanku kok rasanya ga’ enak gini ya… sepertinya mau sakit” ternyata benar sesaat kemudian tubuh kita mulai demam dan sebagainya. Namun di kesempatan lain, misalnya kita sedang menunggui kerabat atau anak kita yang sedang di opname di rumah sakit, saat itu kita rasanya sanggup begadang berhari-hari tanpa sakit. Nah hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya tubuh kita akan bereaksi sesuai dengan apa yang kita pikirkan dan rasakan.
Dengan demikian bukan menjadi hal yang aneh lagi setelah kita membaca penjelasan di atas. Memecahkan keramik hanyalah sebuah simulasi begaimana pikiran manusia bekerja, ketika kita membayangkan bahwa bola lampu pijar itu hanya sebuah batu, pikiran kita mengikutinya dan memvisualkan seakan-akan bola lampu pijar ini benar-benar sebuah batu, sehingga pecahlah keramik itu.
Buat Anda yang masih penasaran, silahkan mencoba di rumah, namun jika anda masih ragu-ragu akan hal ini, anda bisa menghubungi SLC untuk bersama-sama melakukan percobaan ini. Dan yang lebih penting lagi bukanlah keramik yang pecah, namun bagaimana kita bermain-main dengan pikiran kita saat ini untuk mencapai hal-hal yang kita ingin capai. Sukses untuk anda!

Thursday, June 28, 2007



INTUISI
Donny Danardono dan Amelia Hirawan

And when I'm deep down and out, and lose communication
With nothing left to say
It's then I realize it's only a condition
Of seeing things that way
Intuition takes me there
Intuition takes me everywhere
(John Lennon)

Intuition, lirik dan lagu yang berirama riang ini, ditulis oleh John Lennon pada tahun 1970-an. Sepotong lirik di atas menunjukkan anggapan Lennon tentang rasio dan intuisi sebagai dua cara manusia mengetahui sesuatu. Rasio – yang diwujudkan melalui kemampuan berkomunikasi – hanyalah sebuah, bukan satu-satunya, cara untuk mengetahui sesuatu: “…it’s only a condition of seeing things that way”. Intuisi adalah cara yang lain.
Sebelum itu para filsuf Barat dan apalagi Timur sebenarnya telah menunjukkan kemampuan manusia mengetahui melalui rasio dan intuisi tersebut. Bahkan dua cara mengetahui inilah yang membedakan cara berpikir Barat dan Timur. Barat mengutamakan rasio. Sebaliknya Timur mengutamakan intuisi. Pasti beberapa diantara kita masih sangat awam mendengar kata intuisi ini. Mungkin apa itu intuisi bisa dijelaskan begini: misalnya hubungan antara ibu dan anak, seringkali sang ibu yang sedang berjauhan dengan anaknya, ia dapat merasakan ketika anaknya sedang sakit atau sedang mengalami masalah. Atau ketika kita sedang memikirkan seseorang, tiba-tiba orang yang kita pikirkan menelepon atau bahkan datang berkunjung. Hal lain misalnya berkaitan dengan mimpi, beberapa diantara anda mungkin menyadari mimpi seringkali dapat menjadi firasat terjadinya sesuatu. Semakin peka intuisi anda, semakin anda dapat merasakan hal-hal yang terjadi yang tidak dapat dijelaskan oleh rasio.
Jamak diketahui, cara kerja rasio adalah analisa terhadap sesuatu. Oleh rasio suatu obyek dikategorisasikan, dipilah-pilah, dibeda-bedakan dan dibanding-bandingkan untuk kemudian dibuat sintesa-nya. Misalnya, seseorang bisa mengetahui bahwa benda yang di depan matanya adalah gelas, karena dengan rasio-nya secara cepat ia menyusun kategori gelas dan membedakannya dari berbagai benda lain bukan gelas. Sebaliknya intuisi adalah proses mengetahui secara langsung, tanpa perantaraan analisa. Itu sebabnya intuisi disebut sebagai sudden knowledge, pengetahuan yang tiba-tiba datang. Seperti peringatan suatu hal akan terjadi. Tapi justru karena tidak diperantarai oleh analisa, maka intuisi merupakan pengetahuan yang holistik (menyeluruh) tentang sesuatu.
Kiranya pengutamaan rasio daripada intuisi pada cara berpikir Barat dimulai oleh filsuf Jerman – Prusia pada waktu itu - Immanuel Kant (1724-1804). Dalam bukunya Kritik der reinen Vernunft (Kritik atas rasio murni) Kant menunjukkan bahwa rasio mampu menganalisa, karena rasio memiliki aspek apriori, yakni sesuatu yang diandaikan ada. Aspek apriori tersebut adalah ruang, waktu, dan dua belas kategori rasio yang antara lain berupa kuantitas, kualitas, dan kausalitas. Semua itu disebut apriori, karena hanya bisa diketahui secara intuitif, bukan melalui pengalaman inderawi. Misalnya, angka 0, 1, 2, 3 dst hanyalah perwujudan empiris dari pengetahuan intuitif manusia tentang kuantitas. Begitu juga dengan anggapan waktu 1 jam sama dengan 60 menit; ataupun bentuk ruang arsitektural. Angka, waktu dan ruang tidak hadir dalam kehidupan sehari-hari seperi halnya batu, air dan api hadir untuk bisa langsung dilihat, diraba, didengar, diciumi ataupun dijilati. Angka yang intuitif hanya bisa dikenal secara inderawi setelah terlebih dulu dituliskan. Angka-angka intuitif ini sebenarnya tidak ada dalam kehidupan sehari-hari. Ia ada karena direka oleh rasio. Begitu juga dengan ruang dan waktu. Keduanya hanya bisa diketahui oleh pancaindera setelah diwujudkan dalam bentuk gedung, arloji dan almanak.
Karena itu bagi Kant pengetahuan rasional hanya akan ada bila seseorang mampu menggabungkan berbagai unsur apriori dalam rasionya dengan berbagai hal yang sampai pada dirinya melalui pancainderanya (aposteriori). Memang Kant seakan memposisikan hal yang apriori sejajar dengan yang aposteriori, tapi sebenarnya hal yang apriori tersebut segera kehilangan aprioritas-nya setelah mewujud dalam bentuk gedung, arloji atau almanak; dan manusia lebih tertarik dengan proses analisa untuk membentuk pengetahuan daripada mengetahui peran berbagai kategori apriori tersebut.
Singkat kata, sejak Immanual Kant dunia Barat lebih tertarik dengan bagaimana analisa rasional dipraktekkan dan lupa bagaimana intuisi bekerja. Akibatnya analisa rasional ini membuat manusia menjadi individu-individu otonom yang terpisah dari sesamanya dan lingkungan alamnya. Postmodernismelah - yang mendasarkan diri pada analisa tekstual (bahasa) dan menganggap semua hal hanya bisa diketahui setelah terlebih dulu dimaknai secara linguistik – yang mengembalikan intuisi sebagai salah satu cara penting untuk mengetahui. Hal ini terjadi karena, menurut kaum postmodern, pengetahuan rasionalitas, walaupun membawa kemajuan dan kenikmatan material, telah menjauhkan manusia dari alam dan mengakibatkan kerusakan lingkungan. Menurut mereka, berbeda dari binatang, manusia mampu mengambil jarak dari alam karena manusia menggunakan bahasa gramatikal, bahasa yang membuat manusia mampu memaknai (sesuai kepentingan dirinya) diri dan berbagai benda di alam sekitarnya; dan dengan demikian mampu membuatnya berpikir analitis. Persoalannya, bahasa gramatikal ini bukanlah bahasa yang alamiah. Ia diciptakan oleh manusia secara begitu saja (arbitrer). Jadi kebenaran bahasa bukanlah kebenaran alamiah, tapi politis (karena didasarkan pada kepentingan manusia). Jadi bila rasio hanya bisa bekerja karena bahasa, maka tak ada kebenaran rasional yang obyektif dan netral. Semua kebenaran rasional bersifat politis. Postmodernisme mencurigai rasio dan rasionalisme, dan berusaha mengangkat kembali intuisi agar manusia tak terlalu jauh dari alam.
Walau demikian, intuisi postmodern berbeda dari intuisi filsafat Timur. Para filsuf Timur menganggap pengetahuan rasional yang analitis sebagai sesuatu yang negatif. Bukan hanya karena kebenaran analitis bersifat parsial (tidak holistik), tapi terutama karena analisa membuat manusia terasing dari lingkungan sosial dan alamnya. Sampai di sini tampak ada titik temu antara postmodernisme dan filsafat Timur. Tapi sebenarnya keduanya berbeda secara radikal. Filsafat Timur menganggap pengetahuan intuitif hanya akan hadir melalui meditasi. Meditasi adalah proses manusia menjauhkan diri dari pemikiran rasional-analitis, dan karenanya “menyadarkan” dirinya sebagai bagian alam. Melalui meditasi manusia memperoleh pengetahuan yang holistik (intuitif) tentang dirinya dan berbagai hal di luar dirinya. Bahwa dirinya tak bisa lepas dari alam.
Sementara postmodernisme menganggap pengetahuan intuitif hanya mungkin ada, karena berbagai hal yang intuitif – misalnya ruang, waktu, angka dan kausalitas – telah dimaknai secara linguistik. Bahasa sendiri juga bersifat intuitif. Karena itu, bagi postmodernisme, pengetahuan intuitif juga masih membutuhkan penafsiran dan perdebatan.
Belakangan, kami banyak mempelajari mengenai intuisi ini, terutama kaitannya dengan budaya Timur dan lebih spesifik lagi pada masyarakat Jawa. Di budaya Jawa, konsep intuisi lebih diyakini sebagai bentuk “olah roso” yang dimaknai untuk mengolah pikiran dan perasaan agar lebih peka. Konsep ini pada dasarnya sama dengan kegiatan meditasi untuk melampaui pemikiran rasional analitis. Semakin “roso” diolah, semakin peka diri kita untuk memaknai kejadian-kejadian dalam hidup. Banyak hal yang kita alami namun sulit dijelaskan dengan rasio, disinilah peran intuisi dalam kehidupan kita.

Bagaimana melatih intuisi?
Dalam budaya kita, sangatlah mudah melatih intuisi. Seorang Muslim dapat melakukan dzikir. Cobalah latih dzikir anda, satu kalimat doa diucapkan dalam satu nafas. Bernafaslah secara lembut. Tarik nafas lewat hidung, buang nafas perlahaaaan dan panjaaang lewat mulut. Sementara yang Kristen dapat melantunkan lagu-lagu pujian, hayati kalimat-kalimatnya dan menyanyilah sepenuh hati. Dan yang Katolik, dapat melakukannya dengan doa rosario dan atau taize. Dapat juga bermeditasi. Bagaimana dengan yang menganut aliran kepercayaan atau yang tidak beragama? “Gampang”, Mereka cukup melatih nafas … duduk tenang, tarik satu nafas dihitungan pertama, tahan satu atau dua hitungan, buang nafas perlahan melalui mulut sebanyak tiga atau empat hitungan. Prinsip nafas inilah yang membuat tubuh makin tenang, tenang, dan tenang. Saat tenang inilah biasanya kelima panca indera kita menjadi lebih peka dan disinlah terjadi proses fisiologis yang berjalan hingga ke pusat syaraf kita sehingga kita dapat menyadari lebih dalam hal-hal yang terjadi di sekitar kita.
Memang tak mudah memahami intuisi dalam waktu yang singkat. Intuisi lebih mudah dirasakan dan dialami daripada didiskusikan. Cobalah!!

Donny Danardono
Dosen Filsafat di Fakultas Hukum dan Program Magister Lingkungan Perkotaan (PMLP) UNIKA Soegijapranata; Sedang studi S3 di bidang Geografi Sosial di Universitas Radboud, Nijmegen, Belanda.

Amelia Hirawan
SinergiaLife Consultant, HRD Entertainment Plaza
(Jika tertarik dengan intuisi, silahkan hubungi Amelia Hirawan di 081.2292.3135 atau ameliahirawan@yahoo.co.id.)