INTUISI
Donny Danardono dan Amelia Hirawan
And when I'm deep down and out, and lose communication
With nothing left to say
It's then I realize it's only a condition
Of seeing things that way
Intuition takes me there
Intuition takes me everywhere
(John Lennon)
Intuition, lirik dan lagu yang berirama riang ini, ditulis oleh John Lennon pada tahun 1970-an. Sepotong lirik di atas menunjukkan anggapan Lennon tentang rasio dan intuisi sebagai dua cara manusia mengetahui sesuatu. Rasio – yang diwujudkan melalui kemampuan berkomunikasi – hanyalah sebuah, bukan satu-satunya, cara untuk mengetahui sesuatu: “…it’s only a condition of seeing things that way”. Intuisi adalah cara yang lain.
Sebelum itu para filsuf Barat dan apalagi Timur sebenarnya telah menunjukkan kemampuan manusia mengetahui melalui rasio dan intuisi tersebut. Bahkan dua cara mengetahui inilah yang membedakan cara berpikir Barat dan Timur. Barat mengutamakan rasio. Sebaliknya Timur mengutamakan intuisi. Pasti beberapa diantara kita masih sangat awam mendengar kata intuisi ini. Mungkin apa itu intuisi bisa dijelaskan begini: misalnya hubungan antara ibu dan anak, seringkali sang ibu yang sedang berjauhan dengan anaknya, ia dapat merasakan ketika anaknya sedang sakit atau sedang mengalami masalah. Atau ketika kita sedang memikirkan seseorang, tiba-tiba orang yang kita pikirkan menelepon atau bahkan datang berkunjung. Hal lain misalnya berkaitan dengan mimpi, beberapa diantara anda mungkin menyadari mimpi seringkali dapat menjadi firasat terjadinya sesuatu. Semakin peka intuisi anda, semakin anda dapat merasakan hal-hal yang terjadi yang tidak dapat dijelaskan oleh rasio.
Jamak diketahui, cara kerja rasio adalah analisa terhadap sesuatu. Oleh rasio suatu obyek dikategorisasikan, dipilah-pilah, dibeda-bedakan dan dibanding-bandingkan untuk kemudian dibuat sintesa-nya. Misalnya, seseorang bisa mengetahui bahwa benda yang di depan matanya adalah gelas, karena dengan rasio-nya secara cepat ia menyusun kategori gelas dan membedakannya dari berbagai benda lain bukan gelas. Sebaliknya intuisi adalah proses mengetahui secara langsung, tanpa perantaraan analisa. Itu sebabnya intuisi disebut sebagai sudden knowledge, pengetahuan yang tiba-tiba datang. Seperti peringatan suatu hal akan terjadi. Tapi justru karena tidak diperantarai oleh analisa, maka intuisi merupakan pengetahuan yang holistik (menyeluruh) tentang sesuatu.
Kiranya pengutamaan rasio daripada intuisi pada cara berpikir Barat dimulai oleh filsuf Jerman – Prusia pada waktu itu - Immanuel Kant (1724-1804). Dalam bukunya Kritik der reinen Vernunft (Kritik atas rasio murni) Kant menunjukkan bahwa rasio mampu menganalisa, karena rasio memiliki aspek apriori, yakni sesuatu yang diandaikan ada. Aspek apriori tersebut adalah ruang, waktu, dan dua belas kategori rasio yang antara lain berupa kuantitas, kualitas, dan kausalitas. Semua itu disebut apriori, karena hanya bisa diketahui secara intuitif, bukan melalui pengalaman inderawi. Misalnya, angka 0, 1, 2, 3 dst hanyalah perwujudan empiris dari pengetahuan intuitif manusia tentang kuantitas. Begitu juga dengan anggapan waktu 1 jam sama dengan 60 menit; ataupun bentuk ruang arsitektural. Angka, waktu dan ruang tidak hadir dalam kehidupan sehari-hari seperi halnya batu, air dan api hadir untuk bisa langsung dilihat, diraba, didengar, diciumi ataupun dijilati. Angka yang intuitif hanya bisa dikenal secara inderawi setelah terlebih dulu dituliskan. Angka-angka intuitif ini sebenarnya tidak ada dalam kehidupan sehari-hari. Ia ada karena direka oleh rasio. Begitu juga dengan ruang dan waktu. Keduanya hanya bisa diketahui oleh pancaindera setelah diwujudkan dalam bentuk gedung, arloji dan almanak.
Karena itu bagi Kant pengetahuan rasional hanya akan ada bila seseorang mampu menggabungkan berbagai unsur apriori dalam rasionya dengan berbagai hal yang sampai pada dirinya melalui pancainderanya (aposteriori). Memang Kant seakan memposisikan hal yang apriori sejajar dengan yang aposteriori, tapi sebenarnya hal yang apriori tersebut segera kehilangan aprioritas-nya setelah mewujud dalam bentuk gedung, arloji atau almanak; dan manusia lebih tertarik dengan proses analisa untuk membentuk pengetahuan daripada mengetahui peran berbagai kategori apriori tersebut.
Singkat kata, sejak Immanual Kant dunia Barat lebih tertarik dengan bagaimana analisa rasional dipraktekkan dan lupa bagaimana intuisi bekerja. Akibatnya analisa rasional ini membuat manusia menjadi individu-individu otonom yang terpisah dari sesamanya dan lingkungan alamnya. Postmodernismelah - yang mendasarkan diri pada analisa tekstual (bahasa) dan menganggap semua hal hanya bisa diketahui setelah terlebih dulu dimaknai secara linguistik – yang mengembalikan intuisi sebagai salah satu cara penting untuk mengetahui. Hal ini terjadi karena, menurut kaum postmodern, pengetahuan rasionalitas, walaupun membawa kemajuan dan kenikmatan material, telah menjauhkan manusia dari alam dan mengakibatkan kerusakan lingkungan. Menurut mereka, berbeda dari binatang, manusia mampu mengambil jarak dari alam karena manusia menggunakan bahasa gramatikal, bahasa yang membuat manusia mampu memaknai (sesuai kepentingan dirinya) diri dan berbagai benda di alam sekitarnya; dan dengan demikian mampu membuatnya berpikir analitis. Persoalannya, bahasa gramatikal ini bukanlah bahasa yang alamiah. Ia diciptakan oleh manusia secara begitu saja (arbitrer). Jadi kebenaran bahasa bukanlah kebenaran alamiah, tapi politis (karena didasarkan pada kepentingan manusia). Jadi bila rasio hanya bisa bekerja karena bahasa, maka tak ada kebenaran rasional yang obyektif dan netral. Semua kebenaran rasional bersifat politis. Postmodernisme mencurigai rasio dan rasionalisme, dan berusaha mengangkat kembali intuisi agar manusia tak terlalu jauh dari alam.
Walau demikian, intuisi postmodern berbeda dari intuisi filsafat Timur. Para filsuf Timur menganggap pengetahuan rasional yang analitis sebagai sesuatu yang negatif. Bukan hanya karena kebenaran analitis bersifat parsial (tidak holistik), tapi terutama karena analisa membuat manusia terasing dari lingkungan sosial dan alamnya. Sampai di sini tampak ada titik temu antara postmodernisme dan filsafat Timur. Tapi sebenarnya keduanya berbeda secara radikal. Filsafat Timur menganggap pengetahuan intuitif hanya akan hadir melalui meditasi. Meditasi adalah proses manusia menjauhkan diri dari pemikiran rasional-analitis, dan karenanya “menyadarkan” dirinya sebagai bagian alam. Melalui meditasi manusia memperoleh pengetahuan yang holistik (intuitif) tentang dirinya dan berbagai hal di luar dirinya. Bahwa dirinya tak bisa lepas dari alam.
Sementara postmodernisme menganggap pengetahuan intuitif hanya mungkin ada, karena berbagai hal yang intuitif – misalnya ruang, waktu, angka dan kausalitas – telah dimaknai secara linguistik. Bahasa sendiri juga bersifat intuitif. Karena itu, bagi postmodernisme, pengetahuan intuitif juga masih membutuhkan penafsiran dan perdebatan.
Belakangan, kami banyak mempelajari mengenai intuisi ini, terutama kaitannya dengan budaya Timur dan lebih spesifik lagi pada masyarakat Jawa. Di budaya Jawa, konsep intuisi lebih diyakini sebagai bentuk “olah roso” yang dimaknai untuk mengolah pikiran dan perasaan agar lebih peka. Konsep ini pada dasarnya sama dengan kegiatan meditasi untuk melampaui pemikiran rasional analitis. Semakin “roso” diolah, semakin peka diri kita untuk memaknai kejadian-kejadian dalam hidup. Banyak hal yang kita alami namun sulit dijelaskan dengan rasio, disinilah peran intuisi dalam kehidupan kita.
Bagaimana melatih intuisi?
Dalam budaya kita, sangatlah mudah melatih intuisi. Seorang Muslim dapat melakukan dzikir. Cobalah latih dzikir anda, satu kalimat doa diucapkan dalam satu nafas. Bernafaslah secara lembut. Tarik nafas lewat hidung, buang nafas perlahaaaan dan panjaaang lewat mulut. Sementara yang Kristen dapat melantunkan lagu-lagu pujian, hayati kalimat-kalimatnya dan menyanyilah sepenuh hati. Dan yang Katolik, dapat melakukannya dengan doa rosario dan atau taize. Dapat juga bermeditasi. Bagaimana dengan yang menganut aliran kepercayaan atau yang tidak beragama? “Gampang”, Mereka cukup melatih nafas … duduk tenang, tarik satu nafas dihitungan pertama, tahan satu atau dua hitungan, buang nafas perlahan melalui mulut sebanyak tiga atau empat hitungan. Prinsip nafas inilah yang membuat tubuh makin tenang, tenang, dan tenang. Saat tenang inilah biasanya kelima panca indera kita menjadi lebih peka dan disinlah terjadi proses fisiologis yang berjalan hingga ke pusat syaraf kita sehingga kita dapat menyadari lebih dalam hal-hal yang terjadi di sekitar kita.
Memang tak mudah memahami intuisi dalam waktu yang singkat. Intuisi lebih mudah dirasakan dan dialami daripada didiskusikan. Cobalah!!
Donny Danardono
Dosen Filsafat di Fakultas Hukum dan Program Magister Lingkungan Perkotaan (PMLP) UNIKA Soegijapranata; Sedang studi S3 di bidang Geografi Sosial di Universitas Radboud, Nijmegen, Belanda.
Amelia Hirawan
SinergiaLife Consultant, HRD Entertainment Plaza
(Jika tertarik dengan intuisi, silahkan hubungi Amelia Hirawan di 081.2292.3135 atau ameliahirawan@yahoo.co.id.)
.jpg)
1 comments:
ameliahirawan.blogspot.com is very informative. The article is very professionally written. I enjoy reading ameliahirawan.blogspot.com every day.
quick loan
pay day loans
Post a Comment