Monday, August 20, 2007

Memahami “Bahasa Otak” Anak

Diawali dengan ada 5 Rudi di Indonesia (seperti R. Habibie, R. Hartono, R. Hadisuwarno, dan Rudi lainnya). Dari kesemua Rudi itu, pandangan masyarakat pada umumnya menunjukkan bahwa R. Habibie adalah orang yang paling cerdas. Namun, menurut Howard Gardner, menyebutkan bahwa mereka semua memiliki kecerdasan yang berbeda (Multiple Intelligence). Bagaimana penilaian kita sebagai orang tua?
Di zaman globalisasi ini, membuat anak menjadi stress, karena anak-anak merasa muak dengan yang namanya belajar. Baik itu belajar di sekolah, di tempat les, maupun belajar di rumah. Semuanya menuntut anak dengan beban yang sangat berat. Padahal kata “pendidikan” berasal dari kata educare yang berarti mengeluarkan potensi yang dimiliki. Hal ini membuat anak menjadi 10 fobia, yang paling parah adalah fobia sekolah.
Di Jakarta, untuk mengantisipasi hal itu maka diadakan sistem pendidikan yang diselenggarakan di rumah atau Home Schooling. Banyak artikel yang memuat mengenai pendidikan di Indonesia, “What’s wrong with Asia’s school?” kurikulum pendidikan di Indonesia terlalu padat ditambah lagi beban dari orangtua dan tempat les.
Bagi orangtua, sejak mengandung anak merupakan masa pendidikan dini. Hal inii dapat dilakukan dengan mengajak bicara anak yang masih berada dalam kandungan. Karena anak membutuhkan stimulasi yang akan melahirkan Sense of basic trust. Sehingga selanjutnya dibutuhkan kemampuan mendongeng pada orangtua.
Usia Balita, memiliki kadar rasa ingin tahu yang sangat besar:
• 50% terdapat pada anak usia 0 – 4 tahun
• 30% terdapat pada anak usia 5 – 10 tahun
• 20% terdapat pada anak di atas usia 11 tahun.
Namun seringkali rasa keingin tahuan anak ini sering diartikan dan dilabel “nakal” oleh orang tua karena keaktifannya. Memang, idealnya anak diajak untuk belajar dengan berkenalan yang menggunakan metode kasih sayang. Proses merupakan suatu hal yang penting, caranya dengan menggunakan lagu sambil bermain, sehingga akan melibatkan unsur kognitif, afektif, dan psikomotorik. Karena setiap anak adalah UNIK dan bersifat OTENTIK. Sehingga membuat orangtua bangga, yang pada akhirnya akan tertanamkan konsep diri yang positif. Untuk itu orangtua perlu terus belajar, dengan mengikuti talkshow maupun seminar.
Menjadi orangtua harus profesional dan pintar menjadi:
• Penyanyi (mengajari anak dengan bernyanyi)
• Penari (menari-nari sambil mengajak anak agar mau makan)
• Pelukis (bukan mengajari anak melukis)
• Pelawak (memberikan joke-joke kecil)
• Pesulap (dengan menggunakan alat-alat lucu)
• Olahragawan
• Manager (mampu mengelola suasana keluarga)
Dalam suatu Learning Forum, untuk mengoptimalkan proses pembelajaran dari orang tua tersebut, digunakan pendekatan seperti Quantum Learning – seperangkat metode dan falsafah belajar yang telah terbukti efektif dengan menggunakan aspek-aspek penting dalam program neurolinguistik (NLP). NLP juga mencakup hubungan antara bahasa dan perilaku yang dapat digunakan untuk menciptakan jalinan pengertian antara anak dan orangtua. Para orang tua dengan pengetahuan NLP mengetahui bagaimana menggunakan bahasa yang positif untuk meningkatkan tindakan positif – faktor penting untuk merangsang fungsi otak yang paling efektif. Semua ini dapat pula menunjukkan dan menciptakan gaya belajar terbaik dari setiap orang, untuk mencapai keberhasilan yang meyakinkan.

No comments: