Pertengahan Juli yang lalu, saya dengan beberapa teman trainer melanglang ke Medan, awalnya kami diundang oleh seoraang rekan trainer, Martin (pernah memberikan seminar Basic NLP for Human Resources di Unika Soegijapranata, Semarang, tahun 2005), untuk menjadi tim dalam pelatihan untuk PT. Alfa Scorpii Medan. Ternyata setiba disana, banyak hidden agenda yang harus kami lakukan, pastilah untuk memberikan kelas-kelas mindset motivation pada beberapa institusi.
Bagi beberapa orang, mungkin istilah mindset masih terasa asing. Saya sendiri terus terang juga agak sulit mendefinisikan istilah tersebut, namun dengan contoh dibawah ini, semoga anda mendapat gambaran tentang apa itu mindset.
Ada dua anak, yang satu berasal dari keluarga kaya dan yang satu berasal dari keluarga miskin. Yang namanya anak-anak, mereka akan selalu tertarik dengan bermain hujan, demikian pula dengan kedua anak ini. Anak orang kaya ketika bermain hujan, orangtuanya segera berteriak : ”Hei!!! Jangan bermain hujan, malu-maluin Ayah, kalau mau main air di dalam saja, pakai shower di kamar mandi, disitu malah bisa kamu set mau panas atau dingin. Kalau hujan –hujanan nanti kamu sakit!!” Sehingga anak ini belajar bahwa hujan – sakit, hujan – sakit, hujan – sakit..... Kini kita lihat apa yang dialami oleh anak kedua, ketika hujan mulai turun, justru Ayah anak itu berkata : ”Nak, kenapa kamu masih diam dirumah? Nih, ambil payung, mumpung masih hujan pergilah untuk ojek payung, HUJAN ITU REJEKI !!” Maka anak ini belajar bahwa hujan - rejeki, hujan – rejeki, hujan – rejeki.... Nah ketika hari-hariberikutnya kedua anak ini terkena air hujan, mana yang Anda perkirakan akan sakit ?
Benar sekali pendapat Anda, anak pertamalah yang akan sakit, karena ia belajar bahwa hujan itu sakit, sedangkan anak ke dua belajar bahwa hujan itu rejeki. Inilah kira-kira yang dimaksud dengan mindset.
Pikiran manusia ibaratnya sebuah harddisk komputer yang ketika lahir belum diinstal informasi apapun. Ini mengingatkan kita pada Teori Tabula Rasa yang di ungkapkan oleh John Locke, bahwa manusia ketika lahir ibarat kertas putih yang kosong. Ketika anak mulai menjalani proses perkembangan dan kehidupannya, ia mulai menerima banyak informasi yang mulai masuk ke dalam pikirannya secara berulang-ulang, yang sampai akhirnya diyakinilah informasi itu sebagai sebuah sistem atau nilai keyakinan. Inilah yang disebut sebagai mindset. Nah, makin dewasa seseorang, sudah pasti informasi yang diterimanya semakin banyak dan semakin terpola sebagai mindset. Mindset yang ini ternyata tidak mudah diubah atau ditimpa dengan pola baru.
Perbandingan otak manusia dengan komputer juga menjelaskan mengapa kadang-kadang perubahan menjadi suatu hal yang sangat sulit. Terlepas dari seberapa keinginan, harapan atau angan-angan kita, kita sulit menerima perubahan dalam hidup ini. Pada komputer, secara sederhana dengan mencocokkan antara program baru dengan petunjuk yang tersedia, selesai sudah installing program baru dan program lama sudah berubah. Pada manusia, hal ini tidak sedemikian mudah. Seperti yang dijelaskan oleh ahli-ahli mindset, manusia sangat ahli dalam mengembangkan satu aspek atau konsep secara mahir, dan kemudian mereka sama sekali tidak tahu bagaimana mereka dapat mengubah program berpikir mereka untuk mengembangkan aspek lain. Ketika manusia tidak dapat mengubah cara pikirnya, mereka cenderung mencari-cari alasan.
Inilah yang kami lakukan selamia berkunjung di Medan, kami berbagi dengan memberikan pelatihan-pelatihan mindset pada para karyawan yang rata-rata menunjukkan wajah yang tidak rileks dan lelah karena beban pekerjaan sehari-hari. Kami memberikan pelatihan ini dengan metode games therapy, yaitu dengan berbagai permainan, musik, dan film-film singkat. Beberapa simulasi kami lakukan, misalnya yang dialami oleh Nana, Asisten Sekretaris Harian Medan Bisnis, ia sangat kaget ketika mendengan suara ”KRAK” – sebuah pensil terbelah menjadi dua. Bagaimana tidak kaget, ia tidak menduga sebelumnya akan mampu mematahkan pensil itu dengan hanya menggunakan jari telunjuknya. Contoh lain, ketika kami melakukan simulasi untuk memecahkan keramik dengan menggunakan lampu pijar, banyak peserta awalnya mengatakan ”tidak mungkin, mustahil, mana bisa...” namun kami memberikan konsep-konsep mindset bahwa dengan modal keyakinan pada diri sendiri dan konsentrasi, keramik yang tebal itu dapat pecah ketika dijatuhi dengan lamu pijar.
Memang, permainan tersebut hanya simulasi, namun dari permainan yang sederhana, mampu memberikan wawasan bagi pada peserta training tentang mindset bahwa sesuatu yang tidak mungkin akan menjadi MUNGKIN jika kita percaya. Masih penasaran? Banyak kelas-kelas mindset yang diadakan di Semarang, anda tidak perlu jauh-jauh pergi ke Medan untuk bertemu dengan para trainer ini. Salah satunya, anda bisa hubungi Sinergia di 8417969 / 70120185, kebetulan kami akan mengadakan kelas mindset setiap bulannya. Sukses untuk anda !!
InSpirational Sites
Monday, August 20, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
.jpg)
0 comments:
Post a Comment