Baru-baru ini saya terima email dari seorang teman yang tergabung dalam mailing list Neuro Semantics Indonesia. Dalam emailnya dia memberi tahu tentang Manuskrip Celestine…. Nah apa lagi coba?
Sekitar tahun 1996, saya menemukan buku Manuskrip Celestine yang dikarang oleh James Redfield ini di jajaran novel-novel fiksi. Saya kira saat itu sekedar novel biasa. Ternyata setelah saya baca, buku ini menceritakan perjalanan seorang arkeolog yang mencari manuskrip-manuskrip kuno di pedalaman Peru yang berisi wawasan-wawasan rahasia yang dapat menuntun manusia kearah kehidupan spiritual yang lebih tinggi, serta menciptakan transformasi besar saat manusia telah mencapai tingkatan tersebut. Demikian pula wacana mengenai perputaran energi di alam semesta ini ikut mewarnai petualangan pencarian manuskrip ini.
Menurut saya, fase transfomasi bagi manusia ini bisa disebut sebagai ENLIGHTMENT.
Seperti halnya cerita-cerita fiksi, ternyata pemerintah Peru dan gereja saat ini ingin memusnahkan manuskrip tersebut. Alasannya ? Biasalah… kalau umat manusia ini sudah menemukan “jati dirinya”, dia akan bisa membuat pilihan-pilihan yang merdeka, dengan demikian orang lain akan suli “mengatur” kehidupan si manusia itu.
Walaupun dikemas sebagai novel fiksi, menurut saya Celestine benar-benar nyata dan aplikatif dalam kehidupan manusia. Apalagi belakangan ini ketika muncul The Secret dengan Law of Attraction-nya, ditambah lagi berbicara mengenai energi di alam semesta ini, rasanya Celestine menjadi buku wajib yang harus dibaca.
Sebagai kelanjutannya, James menerbitkan buku The Tenth Insight dan The Secret of Shambala.
Tertarik untuk berdiskusi?
InSpirational Sites
Saturday, October 13, 2007
Monday, October 1, 2007
Perlindungan Kerja
Sore tadi saya diundang untuk menghadiri Talkshow yang diadakan oleh Trijaya Fm di Hotel Horison Semarang. Awalnya saya ragu karena topiknya saya 'ga mudheng', mengenai Jamsostek untuk Tenaga Kerja di luar hubungan kerja. Namun seru juga setelah diikuti, terlebih ada teman diskusi yang menarik, ada pak Hianoto yang sangat rajin menulis di blog, dan pak Bambang Nugroho.
Hal yang mengejutkan bagi saya, tersebut data bahwa di Pasar Johar Semarang ternyata ada 1800 tenaga bongkar muat.. gileee.... banyak banget. Itu baru di satu pasar lo! Padahal yang namuan 'kuli' bongkar muat ini, bisa kita pastikan penghasilannya kurang dari UMR. Boro-boro mikir soal jaminan kesehatan, untuk makan saja mungkin mereka kesulitan. Belum lagi tingkat pendidikan yang rendah membuat mereka belum punya wacana tentang menabung, asuransi, atau mikir hari tua mau seperti apa. Andai saja mereka menjadi karyawan dengan suatu ikatan kerja yang pasti, ehm rasanya lebih enak, karena perusahaan pastilah akan mengikutkan mereka ke Jamsostek sehingga ada perlindungan. Tapi bagi mreka yang tidak punya hubungan kerja alias kerja sendiri, misalnya saja buruh di pasar, pedagang kaki lima, pengamen, dan sebagainya.
Dan ternyata saat ini Jamsostek mengeluarkan program baru bagi mereka yang tidak bekerja dalam suatu hubungan kerja. Murah banget lo preminya, cuman 7800 rupiah, dengan jaminan setara penghasilan UMR 600.000 rupiah. Memang itu setara dengan sebungkus rokok ya.
Cuman sekarang masalahnya, bagaimana merubah pola pikir rekan-rekan kita ini agar mereka sadar bahwa proteksi adalah hal yang penting. Kuncinya adalah kampanye program ini secara kontinu. Apakah hanya menjadi tugas dari Jamsostek? Pastilah tidak!! Menurut saya, ini menjadi tanggung jawab sosial bersama sebagai satu saudara di negeri tercinta ini.
Hal yang mengejutkan bagi saya, tersebut data bahwa di Pasar Johar Semarang ternyata ada 1800 tenaga bongkar muat.. gileee.... banyak banget. Itu baru di satu pasar lo! Padahal yang namuan 'kuli' bongkar muat ini, bisa kita pastikan penghasilannya kurang dari UMR. Boro-boro mikir soal jaminan kesehatan, untuk makan saja mungkin mereka kesulitan. Belum lagi tingkat pendidikan yang rendah membuat mereka belum punya wacana tentang menabung, asuransi, atau mikir hari tua mau seperti apa. Andai saja mereka menjadi karyawan dengan suatu ikatan kerja yang pasti, ehm rasanya lebih enak, karena perusahaan pastilah akan mengikutkan mereka ke Jamsostek sehingga ada perlindungan. Tapi bagi mreka yang tidak punya hubungan kerja alias kerja sendiri, misalnya saja buruh di pasar, pedagang kaki lima, pengamen, dan sebagainya.
Dan ternyata saat ini Jamsostek mengeluarkan program baru bagi mereka yang tidak bekerja dalam suatu hubungan kerja. Murah banget lo preminya, cuman 7800 rupiah, dengan jaminan setara penghasilan UMR 600.000 rupiah. Memang itu setara dengan sebungkus rokok ya.
Cuman sekarang masalahnya, bagaimana merubah pola pikir rekan-rekan kita ini agar mereka sadar bahwa proteksi adalah hal yang penting. Kuncinya adalah kampanye program ini secara kontinu. Apakah hanya menjadi tugas dari Jamsostek? Pastilah tidak!! Menurut saya, ini menjadi tanggung jawab sosial bersama sebagai satu saudara di negeri tercinta ini.
FIRE WALKING
Mustahil!!
Eh,tapi kan katanya tiada yang mustahil dalam nama Tuhan?
Itulah yang diserukan oleh para seminaris (Calon Pastur dalam agama Katolik) ketika kami memberikan kelas dengan tema Change Your Mind for Success dengan metode fire walking tanggal 29 September 2007 yang lalu di Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang. Saya dan Frans Waruwu (jauh-jauh dari Surabaya nih..) dan Okky Sulistijo disukung oleh semangat Romo Nano (Romo Pamong Seminari) pada dasarnya ingin membuka wacana baru bagi para seminaris.
Pilihan hidup para seminaris (saat ini setara dengan 3 SMU)memang adalah hal yang unik. Bagaimana tidak, mereka meninggalkan kehidupan duniawi demi sebuah prinsip untuk mengabdikan diri sebutuhnya menjadi pelayan Tuhan. Seperti yang kita tahu, di gereja Katolik, seorang pastur harus mengucapkan 3 kaul, yaitu KETAATAN (pada pmpinan dan hukum gereja), KESUCIAN (tidak boleh menikah), dan KEMISKINAN (meninggalkan semua materi). Nah, bukan hal yang mudah kan....
Terus apa hubungannya?
Sebagai pengemban misi yang besar, tentu saja para seminaris ini perlu dibekali berbagai macam hal agar dapat bertahan dalam morat-maritnya dunia ini kan. Seperti biasa, ujung-ujungnya semua berawal dari pikiran. Oleh sebab itukah kami memberikan pelatihan yang berbasis mindset pada mereka.
Satu ulasan yang paling jelas, para seminaris mesti paham benar bahwa potensi diri yang dimilikinya sangat besar, kerennya "Anything is Possible". Memang, dengan berjalan di atas bara api bukannya mau membuat diri kita menjadi jagoan atau hidup berubah dengan sangat mudah, namun membuat kita makin menyadari bahwa manusia itu hebat dan Tuahn itu luar biasa. Dan alhasil, sebaian besar peserta semakin menyadari potensinya yang luar biasa namun belum dilatih secara optimal.
Selanjutnya, pelatihan kemarin ditutup dengan proses reflektif bahwa dalam hidup ini manusia perlu berusaha dengan giat, berdoa lebih tekun, dan berserah, karena Tuhan yang menentukan.
So, Ad Maiorem Dei Gloriam!!
Eh,tapi kan katanya tiada yang mustahil dalam nama Tuhan?
Itulah yang diserukan oleh para seminaris (Calon Pastur dalam agama Katolik) ketika kami memberikan kelas dengan tema Change Your Mind for Success dengan metode fire walking tanggal 29 September 2007 yang lalu di Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang. Saya dan Frans Waruwu (jauh-jauh dari Surabaya nih..) dan Okky Sulistijo disukung oleh semangat Romo Nano (Romo Pamong Seminari) pada dasarnya ingin membuka wacana baru bagi para seminaris.
Pilihan hidup para seminaris (saat ini setara dengan 3 SMU)memang adalah hal yang unik. Bagaimana tidak, mereka meninggalkan kehidupan duniawi demi sebuah prinsip untuk mengabdikan diri sebutuhnya menjadi pelayan Tuhan. Seperti yang kita tahu, di gereja Katolik, seorang pastur harus mengucapkan 3 kaul, yaitu KETAATAN (pada pmpinan dan hukum gereja), KESUCIAN (tidak boleh menikah), dan KEMISKINAN (meninggalkan semua materi). Nah, bukan hal yang mudah kan....
Terus apa hubungannya?
Sebagai pengemban misi yang besar, tentu saja para seminaris ini perlu dibekali berbagai macam hal agar dapat bertahan dalam morat-maritnya dunia ini kan. Seperti biasa, ujung-ujungnya semua berawal dari pikiran. Oleh sebab itukah kami memberikan pelatihan yang berbasis mindset pada mereka.
Satu ulasan yang paling jelas, para seminaris mesti paham benar bahwa potensi diri yang dimilikinya sangat besar, kerennya "Anything is Possible". Memang, dengan berjalan di atas bara api bukannya mau membuat diri kita menjadi jagoan atau hidup berubah dengan sangat mudah, namun membuat kita makin menyadari bahwa manusia itu hebat dan Tuahn itu luar biasa. Dan alhasil, sebaian besar peserta semakin menyadari potensinya yang luar biasa namun belum dilatih secara optimal.
Selanjutnya, pelatihan kemarin ditutup dengan proses reflektif bahwa dalam hidup ini manusia perlu berusaha dengan giat, berdoa lebih tekun, dan berserah, karena Tuhan yang menentukan.
So, Ad Maiorem Dei Gloriam!!
Subscribe to:
Posts (Atom)
.jpg)