Masih ingat ? Suatu sore Sherlock Holmes dan asisten setianya, Watson, sedang berkemah di tengah ekspedisinya. Setelah menyelesaikan makan malamnya, kedua orang ini lantas tidur nyenyak di dalam tendanya. Tengah malam tiba – tiba Holmes membangunkan sang asisten. “Watson, bangun! Coba katakan apa yang kau lihat?”.
Sambil mengucek – ucek matanya, Watson lantas melihat ke atas langit malam, “Aku melihat bermilyar – milyar bintang”. Lantas apa arti semuanya itu?, sergah Holmes. “Miliaran bintang itu pertanda adanya potensi terbentuknya jutaan planet lainnya”, jawab Watson. “Namun waktu kalau berdasarkan posisi bulan, saat ini mendekati pukul 5 subuh”.
“Apalagi ?”, desak sang boss. “Ah, aku masih ngantuk dan capek. Kalau menurut kamu sendiri, apa arti semuanya itu?”. Yang ditanya terdiam sejenak. Lalu menjawab, “Watson, sayang! Artinya ada maling yang mencuri tenda kita!”.
Saya yakin, ada beberapa diantara Anda yang tertawa membaca cerita diatas, ada pula yang tidak. Lantas apa bedanya dan apa maksudnya?
Seandainya tertawa itu dilarang atau dikenakan biaya, apa yang akan terjadi pada orang-orang di muka bumi ini? Sungguh tidak terbayangkan, namun yang jelas, orang akan makin mudah mati lantaran semakin gampang terkena serangan jantung dan stress. Mengapa?
Tertawa, juga menangis, menurut dr. W.M. Roan, seorang psikiater, merupakan cerminan emosi manusia yang menjadi bagian dari spectrum emosi yang meliputi kesedihan, kegembiraan, kekagetan, ketakutan, cinta kasih, kebencian, dan kemarahan. Ekspresi emosi itu tidak hanya berwujud gerakan, tetapi juga berbagai reaksi emosional yang bermacam-macam. Tidak hanya manusia, hewanpun juga bias menunjukkan perasaan gembira dan sedih dengan berbagai kegiatan dan gerakan. Anjing, misalnya ketika gembira, ekornya ke atas dan bergoyang-goyang. Karena itu, banyak ahli tertarik untuk membahas tertawa dan menangis, termasuk dampaknya bagi kesehatan fisik maupun mental.
Tinjauan medis
Pada saat tertawa, sel-sel saraf manusia akan mengeluarkan peptide opiate, yang merangsang produksi sel-sel limfosit. Sel ini berperan membentengi ketahanan tubuh. Selain itu, dengan tertawa, kadar endorphin dalam tubuh meningkat. Endorfin adalah asam amino dalam tubuh yang bekerja untuk mengurangi rasa sakit alami.
Bila kita memperhatikan, pada saat orang tertawa, ia akan menghirup oksigen lebih banyak, sehingga dapat memperlancar aliran darah di dalam jantung. Oksigen yang banyak juga dapat mengeluarkan udara di paru-paru yang sudah penuh. Ibaratnya berolahraga, satu menit tertawa sama dengan 10 menit mengayuh sepeda. Nah, dengan tawa, jantung jadi tidak berdebar terlalu kencang. Tertawa bisa membuat saraf simpatis, saraf yang membuat jantung berdenyut, akan bekerja. Pada awalnya, kerja jantung bertambah keras. Namun ketika tawa terus berlanjut, pikiran orang menjadi rileks. Saraf parasimpatis ikut bekerja, kerja jantungpun kembali normal. Sedangkan kita perlu ketahui, bahwa saraf parasimpatis berfungsi untuk memperlambat denyut jantung.
Tawa VS Stres
Saat stress, hormone adrenalin yang diproduksi oleh tubuh akan keluar secara berlebih dan menyebabkan jantung berdebar keras. Saat tertawa, tubuh secara otomatis menciptakan efek antiadrenalin, sehingga ketegangan mereda dan tekanan darah menurun. Sebenarnya, saat seseorang tertawa lepas telah terjadi hembusan nafas dan dorongan kuat yang menyebabkan tubuh bergoyang di luar kendali. Hal ini terjadi karena adanya tekanan dari otak. Saat tertawa, lima belas otot wajah berkontraksi, sehingga tertawa sebenarnya dapat juga digunakan sebagai senam muka bagi yang ingin nampak selalu awet muda. Percaya saja, karena kesimpulan ini berasal dari penelitian empiris yang dapat dipertanggung jawabkan. Sehingga kini tergantung anda apakah mau tertawa atau tidak…
Terapi tawa vs trauma gempa di Yogya
Siapa yang tidak ikut miris ketika melihat banyak bangunan retak bahkan roboh, serta melihat kebingungan warga yang kehilangan rumah. Belum lagi pemandangan para warga yang patah tulang, serta isak tangis anak-anak kecil. Itulah yang saya lihat ketika menjadi relawan di Yogya setelah gempa berkekuatan 5,9 skala Richter mengguncang sehingga tidak saja mengakibatkan luka secara fisik tapi juga luka secara mental yang justru lebih mendalam.
Kebetulan saya lebih banyak berkunjung kerumah sakit untuk melakukan proses terapi secar psikis, antara lain Rumah Sakit Bethesda dan Rumah Sakit Panembahan Senopati Bantul. Sepanjang lorong rumah sakit, berjajar puluhan pasien yang tidak mendapat jatah kamar lagi, bahkan ada yang terpaksa tidur di lantai beralaskan tikar. Wajah murung dan sorot mata tanpa harapan terlihat dari para pasien maupun penunggunya. Sementara itu pancaran murung dan keletihan juga nampak diantara tim medis ynag sudah berhari-hari melayani tanpa henti.
Kami mulai mendekati para pasien dengan tenang dan tersenyum pada mereka. Kami meyakini, dengan membuat pasien dapat tersenyum, mereka akan lebih tenang secara psikis sehingga proses penyembuhan pun lebih efektif. Kami membuat mereka tertawa dengan gurauan-gurauan kecil, misalnya pada seorang ibu yang sedang menunggu suaminya yang patah tulang, saya menempelkan salon pas dipundahnya yang katanya sakit sambil berkata “o alah Bu, la wong awak balungan kabeh ketiban tembok ya mesti sakit” mendengar kata-kata tersebut si ibu mulai tersenyum dan minta dipijit. Senyuman tersebut nampaknya sederhana, namun secara mental, efeknya sangat besar.
Pengalaman lain saya dapatkan di Rumah Sakit Elizabeth Ganjuran, ternyata dirumah sakit ini banyak sekali dilakukan terapi saperti yang kami lakukan, intinya adalah membuat pasien terhibur, dapat tersenyum, dan menjadi lebih tenang. Direktur rumah sakit tersebut menggabungkan terapi medis dan psikis. Salah satu cara yang dilakukannya untuk menterapi pasien adalah mengundang peragawati-peragawati dari Yogya dan sekitarnya untuk memandikan para pasien. Nah, siapa yang tidak tersenyum jika dimandikan oleh cewek-cewek cantik seperti itu? Hasilnya? Luar biasa sekali, ketika hari pertama gempa terjadi, mereka menampung lebih dari 1000 pasien, dan 2 minggu pasca gempa, hanya tinggal 5 pasien yang rawat inap.
Nah, semoga pengalaman itu dapat menjadi wacana bagi kita semua. Dalam pengalaman berkunjung ke rumah sakit tersebut terasa sekali kebenaran sebuah artikel di Kompas (12/6/06) : “Ceria dating, Trauma hilang!”
Buat anda yang masih penasaran untuk tertawa, Anda dapat hubungi saya lewat email ameliahirawan@yahoo.co.id atau di Sinergia Life Consultant (024) 8417969 / 70333135/ 08122923135
InSpirational Sites
Monday, August 20, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
.jpg)
0 comments:
Post a Comment